Senin, 12 November 2012

sejarah gayo

Sejarah gayo

Kerajaan Lingga atau Linge (dalam bahasa gayo) di tanah Gayo, menurut M. Junus Djamil dalam bukunya "Gajah Putih" yang diterbitkan oleh Lembaga Kebudayaan Atjeh pada tahun 1959, Kutaraja, mengatakan bahwa sekitar pada abad ke-11 (Penahunan ini mungkin sangat relatif karena kerajaan Lamuri telah eksis sebelum abad ini, penahunan yang lebih tepat adalah antara abad ke 2-9 M), Kerajaan Lingga didirikan oleh orang-orang Gayo pada era pemerintahan Sultan Machudum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kerajaan Perlak. Informasi ini diketahui dari keterangan Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta yaitu Raja Cik Bebesan dan dari Zainuddin yaitu dari raja-raja Kejurun Bukit yang kedua-duanya pernah berkuasa sebagai raja di era kolonial Belanda.
Raja Lingga I, disebutkan mempunyai 4 orang anak. Yang tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu Beru, yang lain Sebayak Lingga (Ali Syah), Meurah Johan (Djohan Syah) dan Meurah Lingga(Malamsyah).
Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah Karo dan membuka negeri di sana dia dikenal dengan Raja Lingga Sibayak. Meurah Johan mengembara ke Aceh Besar dan mendirikan kerajaannya yang bernama Lamkrak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamoeri dan Lamuri atau Kesultanan Lamuri atau Lambri. Ini berarti kesultanan Lamuri di atas didirikan oleh Meurah Johan sedangkan Meurah Lingga tinggal di Linge, Gayo, yang selanjutnya menjadi raja Linge turun termurun. Meurah Silu bermigrasi ke daerah Pasai dan menjadi pegawai Kesultanan Daya di Pasai. Kesultanan Daya merupakan kesultanan syiah yang dipimpin orang-orang Persia dan Arab.
Meurah Mege sendiri dikuburkan di Wihni Rayang di Lereng Keramil Paluh di daerah Linge, Aceh Tengah. Sampai sekarang masih terpelihara dan dihormati oleh penduduk.
Penyebab migrasi tidak diketahui. Akan tetapi menurut riwayat dikisahkan bahwa Raja Lingga lebih menyayangi bungsunya Meurah Mege. Sehingga membuat anak-anaknya yang lain lebih memilih untuk mengembara.

 
Takengen, (Analisa). Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Jakarta Prof.Dr. M.Dien. Madjid, MA menilai kebiasaan menulis masyarakat Gayo masih sangat lemah, berbeda dengan masyarakat di Eropa seperti Belanda. Banyak catatan Belanda dahulu yang dipakai sebagai sumber berbagai tulisan sejarah Gayo, sedangkan sejarah Gayo oleh orang Gayo sendiri tidak ditulis.
Prof. Dien yang selalu berupaya mencatat semua hal dan peristiwa yang terekam olehnya mengharapkan masyarakat Gayo harus membiasakan diri menulis, sehingga bisa dijadikan catatan sejarah bagi generasi Gayo dikemudian hari. Akibat lemahnya kemampuan menulis masyarakat Gayo, sehingga banyak kisah sejarah Gayo yang luput, kecuali hanya cerita dari mulut ke mulut.

"Sedikit sekali penelitian ilmiah yang dilakukan di Takengon," katanya di Batas Kota Paya Tumpi, Kecamatan Kebayakan,  .

Disebutkan, banyak hal yang sangat sederhana yang idealnya diteliti secara ilmiah@ dan dapat dijadikan acuan pembangunan ke depan. Dia mencontohkan beberapa hal yang layak diteliti, salah satunya adalah profil Bupati Aceh Tengah mulai yang pertama hingga sekarang.

Penelitian Ilmiah

Penelitian tentang pemerintahan di daerah dataran tinggi Gayo itu dapat dimulai sejak tahun 1947, saat disyahkannya berdirinya kabupaten tersebut. Selain itu, putra Gayo asal Kampung Lelabu, Bebesen ini juga menginginkan adanya penelitian ilmiah tentang Universitas Gajah Putih (UGP).

Penelitian tersebut bisa dijadikan bahan perkembangan dan kemajuan UGP, sepertinya tentang peran UGP dalam peningkatan sumber daya manusia (SDM) di Gayo. Perbandingan jumlah mahasiswa laki-laki dan perempuan. Asal mahasiswa dan sebab banyaknya mahasiswa dari daerah tertentu. Apa penyebanya dan sejumlah parameter lain.

Data-data ini dapat dipetakan, baik keadaan mahasiswa UGP, dosen dan langkah ke depan yang bisa dilakukan sebagai database memajukan UGP, kata M.Dien yang kerap diminta mengisi berbagai seminar dan workshop serta sarasehan ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar